
DKM Siti Marnah – Kajian Kitab Nashaihul Ibad Bersama Ust. Holis Tentang Empat Nasihat Emas Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari: Bekal Kehidupan Menuju Akhirat
Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin sekaligus guru terbaik bagi umat manusia. Nasihat-nasihat beliau tidak hanya berlaku bagi para sahabat yang hidup pada masa itu, tetapi juga tetap relevan dan menjadi petunjuk hidup bagi umat Islam hingga hari ini. Salah satu nasihat emas Rasulullah SAW disampaikan kepada sahabat mulia, Abu Dzar Al-Ghifari, sebagaimana termaktub dalam kitab Nashaihul ‘Ibad karya Imam Nawawi al-Bantani.
Nasihat ini mengandung makna mendalam, ibarat petunjuk arah dalam meniti jalan kehidupan dunia menuju akhirat. Rasulullah SAW bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ، جَدِّدِ السَّفِيْنَةَ فَإِنَّ اْلبَحْرَ عَمِيْقٌ، وَخُذِ الزَّادَ كَامِلاً فَإِنَّ السَّفَرَ بَعِيْدٌ، وَخَفِّفِ اْلحِمْلَ فَإِنَّ العَقَبَةُ كَئُوْدٌ، وَأَخْلِصِ اْلعَمَلَ فَإِنَّ النَاقَدَ بَصِيْرٌ
“Wahai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu karena laut itu dalam; ambillah bekal yang cukup karena perjalanannya jauh; ringankan beban bawaan karena lereng bukit sulit dilalui; dan ikhlaslah beramal karena Allah Maha Teliti.”
Kapal dalam nasihat ini diibaratkan sebagai diri dan niat kita dalam menjalani hidup. Laut yang dalam menggambarkan perjalanan hidup yang penuh tantangan dan ujian. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya selalu memperbaiki niat dan memperbaharui tekad untuk menjalani hidup sesuai syariat Islam.
Imam Umar bin Khattab pernah mengatakan bahwa niat yang tulus akan mencukupi keperluan manusia dalam menghadapi berbagai persoalan. Begitu pula Salim bin Abdullah bin Umar menyampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz bahwa pertolongan Allah tergantung pada ketulusan niat hamba-Nya.
Bekal yang dimaksud bukan hanya materi, tapi lebih kepada amal saleh, ilmu, dan ketakwaan. Perjalanan menuju akhirat adalah perjalanan abadi yang sangat jauh. Oleh karena itu, kita dianjurkan memperbanyak amal dan perbuatan baik sebagai bekal menuju kehidupan setelah mati.
Dalam hadis riwayat Anas RA, Rasulullah SAW pernah menyampaikan kepada Abu Dzar bahwa orang yang memiliki makanan untuk tiga hari saja termasuk yang memberatkan beban. Ini menunjukkan pentingnya kesederhanaan dan ketergantungan penuh kepada Allah, bukan pada harta dunia.
Beban dalam hidup berupa urusan duniawi hendaknya tidak memberatkan perjalanan kita menuju akhirat. Dunia ini penuh dengan godaan dan kesibukan yang bisa melalaikan kita dari tujuan akhir hidup. Karena itu, sikap zuhud dan tidak berlebihan dalam urusan dunia menjadi kunci agar beban hidup lebih ringan.
Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika setiap langkah kita hanya tertuju kepada Allah. Menanggalkan beban dosa, kesombongan, dan kecintaan berlebihan kepada dunia akan memudahkan kita dalam mendaki “bukit” akhirat.
Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal. Amal yang ikhlas karena Allah, walau sedikit, akan cukup membawa kita kepada keridaan-Nya. Rasulullah SAW bersabda: “Ikhlaskanlah perbuatanmu, maka yang sedikit pun darinya akan mencukupimu.”
Allah SWT adalah Dzat yang Maha Melihat dan Maha Meneliti. Tidak ada satu amal pun, baik maupun buruk, yang luput dari perhatian-Nya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga niat dan hanya mengharap balasan dari-Nya, bukan dari manusia.
Empat nasihat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari adalah pesan universal bagi umat Islam:
Perbaiki niat dan hati kita—karena hidup ini penuh ujian;
Persiapkan amal dan ketakwaan—sebagai bekal menuju akhirat;
Hindari beban dunia yang memberatkan—dengan hidup sederhana dan zuhud;
Tanamkan keikhlasan—karena hanya amal yang ikhlas yang diterima oleh Allah SWT.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjalankan nasihat ini dalam kehidupan sehari-hari dan meraih keselamatan di dunia maupun akhirat.
“Mari kita beramal, termasuk menghadiri pembinaan mental (Bintal) ini, dengan ikhlas karena Allah SWT.”
| Luas Area | 1200 m2 |
| Luas Bangunan | 1200 m2 |
| Status Lokasi | Milik |
| Tahun Berdiri | 2023 |